Model Pembalajaran Contextual Teaching and Learning

Semarang, Lab Pendidikan - Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning - CTL) sebagai model pembelajaran bertujuan untuk membangun pengetahuan dan keterampilan berpikir peserta didik. Yaitu dengan mengaitkan pembelajaran dengan situasi nyata dilingkungan sekitar. Pengembangan model pembelajaran ini mengakomodasi model belajar (CTL Academy Fellow, 1999) bahwa cara belajar terbaik apabila peserta didik mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya.

Pembalajaran kontekstual menurut Johnson (dalam Nurhadi, Burhan Yasin dan Agus Gerrad Senduk, 2004), merupakan proses pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik melihat makna dalam bahan pelajaran yang mereka pelajari dengan cara menghubungkannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari, yaitu dengan konteks lingkungan pribadinya, sosialnya, dan budayanya. Pembelajaran kontekstual ini disamakan dengan pembelajaran berdasarkan pengalaman (experiential learning), pendidikan dunia nyata (real world education), pembelajaran aktif (active learning), pembelajaran berpusat pada peserta didik (learner centered instruction), dan pembelajaran dalam konteks (learning in context). Pembelajaran kontekstual dirancang dengan tujuan untuk meningkatkan minat dan prestasi belajar,disamping membekali peserta didik dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan antar permasalahan dan antar konteks.

Untuk mencapai tujuan tersebut, CTL akan menuntun peserta didik untuk:
  1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections)
  2. Mengerjakan pekerjaan/kegiatan yang berarti (doing significant work)
  3. Mengatur cara belajar sendiri (self regulated learning)
  4. Bekerja bersama (collaborating)
  5. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking)
  6. Memelihara pribadi peserta didik (nurturing the individual)
  7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards)
  8. Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment)
Kata kunci pembelajaran berbasis CTL sekaligus menunjukkan kelebihannyaa, anatar lain :belajar berkerja sama dan saling menunjuang, belajar menyenangkan/tidak membosankan, pembelajaran terintegrasi antar disiplin, menggunakan berbagai sumber, peserta didik aktif, sharing dengan teman atau berbagi pengalaman, peserta didik kritis dan guru kreatif, dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya peserta didik (seperti peta, gambar, artikel, humor, dan sebagainya), dan laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya peserta didik (seperti laporan hasil praktikum, karangan, dan sebagainya). Sedangkan kekurangannya bahwa penggunaan waktu terkesan kurang efektif, lingkungan kelas terkesan penuh dan kurang bersih, perserta didik dalam belajar tidak jarang ditinggal sendiri dalam kelas.
Previous
Next Post »